Kesedihan Menjelang Perjalanan Agung

“Ketika malam semakin pekat, itulah pertanda fajar kan menjelang”. Demikian setitik hikmah dari kisah Isra Mi’raj. Isra Mi’raj adalah sebuah tanda kekuasaan Allah SWT, yang proses kejadiannya jauh di atas kemampuan nalar kita. Namun kejadian tersebut  berada dalam rangkaian peristiwa yang dialami oleh Rasulullah dalam perjuangan dakwahnya. Semoga sekelumit cerita berikut membuat kita semakin menghayati perjuangan Sang Rasul dan semakin meneguhkan cinta kita kepada Allah Yang Maha Hebat.


Suatu hari di tahun 619M, ketika masa kenabian memasuki tahun kesepuluh, Rasulullah dirundung kesedihan yang mendalam. Istri beliau, Siti Khadijah, wafat. Khadijah bukanlah sekedar istri, tetapi juga sahabat dekat dan penasihat yang diandalkan. Melalui perdagangan yang dilakukan bersama Khadijah pula, Rasulullah menjumpai muara-muara rizki yang memberikan kekuatan materiil dalam dakwahnya …

Selang tidak beberapa lama, kesedihan Sang Nabi semakin bertambah-tambah dengan wafatnya Abu Thalib, paman yang selama puluhan tahun menjadi Ayah bagi Rasulullah. Abu Thalib adalah pemimpin Quraisy yang selama 10 tahun terakhir memberikan “perlindungan politik” bagi dakwah Sang Nabi.

Siti Khadijah adalah simpul dukungan dana, sedangkan Abu Thalib adalah simpul dukungan politik. Ketiadaan kedua orang penting tersebut memberikan implikasi yang tidak remeh. Hal itu terlihat dari serangan2 yang semakin gencar dilancarkan oleh Kafir Quraisy, baik yang bersifat fisik maupun penghinaan kepada Sang Nabi.

Di suatu waktu, ada yang berjalan melewati gerbang rumah Rasulullah sambil melempar kotoran ke wadah masakannya. Kadang pula, ketika Rasulullah kembali dari Kabah beberapa orang sengaja mengambil kotoran lalu melemparkannya ke wajah dan seluruh tubuh Rasulullah. Biasanya seorang putrinya akan membasuh dan membersihkannya sambil menangis. “Jangan menangis putriku” Sang Rasul berkata, “Allah akan melindungi ayahmu”

Posisi Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya menjadi sangat lemah. Secara geopolitik, beliau harus mengambil langkah-langkah strategis untuk mempertahankan posisi dan efektivitas dakwah. Pada kondisi tersebut, Rasulullah pergi ke Thaif mencari dukungan sekaligus mengajak orang-orang Tsaqif memeluk Islam. Namun, ajakan Rasulullah berbalas teriakan, caci maki, dan lemparan batu yang menjadikan luka-luka di tubuh dan wajah Sang Rasul.

Beliau berlari ke sebuah kebun yang cukup jauh, berlindung sampai situasi aman. Lalu Sang Nabi bermunajat, “Ya Allah, kepadaMu aku mengeluhkan kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih, Engkau Tuhan orang-orang lemah dan Engkau Tuhanku, kepada siapa Engkau hendak menyerahkan diriku? kepada orang-orang asing yang bermuka masam atau kepada musuh yang akan mengalahkanku? Itu idak aku risaukan selama Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmatMu sangatlah luas bagiku. Aku menyerahkan diri pada cahayaMu yang menerangi segala urusan dunia akhirat. Aku berlindung dari murkaMu, memohon rihaMu, karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenanMu“.

Dan, beberapa waktu setelah kesedihan-kesedihan tersebut, Jibril menjemput Sang Rasul di Hijir Ismail ketika beliau sedang bermunajat untuk melakukan perjalanan agung itu,perjalanan Isra dan Mi’raj.

1 comment so far

  1. hadi on

    kembali terngiang kata-kata bapak kemarin..
    hijrah cepat mudah terjadi pada seseorang setelah orang tersebut berada dalam ‘kemalangan’… / ‘kesedihan..’..

    susah juga ya pak..
    mendatangkan kehendak.. berniat tulus.. untuk hijrah ke jalanNya.. dengan penuh keikhlasan.. dikala kita masih dalam karunia dan Nikmat-Nya…

    “mudah-mudahan sebercik sinar,, dapat memberikan cahaya luas.. AMIN”


Leave a reply