Ketika Himpitan Datang
Kehidupan manusia diselimuti dengan hijab. Sedemikian sehingga makna dan hikmah kejadian seringkali tidak terbaca dengan mudah. Dan ketika sebuah peristiwa pahit datang, bayangannya terasa sebagai sebuah himpitan yang membuat manusia tertunduk tak berdaya. Terkadang peristiwa itu begitu menyesakkan karena kita tidak mengetahui makna dan hikmah dari peristiwa itu sendiri.
Tidak ada jalan lain kecuali bertanya kepada Sang Penguasa Kejadian. Dialah yang menetapkan takdir dalam kadar yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri. Dialah Sang Pemberi Kebaikan yang Maha Lembut sehingga seringkali obat-obat kehidupan disusupkan ke jantung hati ini dengan cara tertentu yang sering tidak dipahami tetapi dipastikan yang terbaik …
Sudahkah kita yakin???
Kita percaya bahwa Allah adalah Sang Penolong, tetapi seringkali kita tidak yakin dengan mekanisme yang dibuatNya agar kita mendapatkan pertolonganNya ….
Kita percaya tanpa keraguan sedikitpun bahwa sebuah kebimbangan dapat terselesaikan melalui sebuah istikharah. Kita tahu ilmu istikharah, dan kita juga percaya bahwa Allah akan memberi keputusan yang terbaik melalui istikharah itu. Tetapi, hati kita tidak mantap betul meski kita melakukan istikharah, karena kita lebih yakin bahwa logika kita lebih dapat diandalkan untuk menyelesaikan kebimbangan itu …
Kita percaya betul bahwa tahajud dapat menyelesaikan masalah. Kita percaya Allah akan mendatangi orang-orang yang tahajud, menjawab doanya dan mencerahkan harinya. Namun kita belum yakin sepenuhnya bahwa Allah hadir dalam tahajud kita. Kita tidak bisa menggerakkan hati kita pada keyakinan itu, karena diri kita dipenuhi oleh logika dan skenario pemecahan masalah yang mengandalkan otot dan otak.
Kita percaya dengan zakat, infak, sedekah atau wakaf. Kita bangga dengan ayat Quran yang bicara tentang Sedekah. Kita sering bertepuk dada sembari berkata, “Lihat, Tuhanku luar biasa, sangat pemurah, sekali bersedekah diganjar sepuluh kali lipat”. Namun, ketika kita mempunyai hajat dan kebutuhan kita lebih mantap dengan mekanisme tabungan daripada sedekah, kita lebih yakin dengan proses investasi daripada wakaf, dan kita lebih mengandalkan logika dan jaringan manusia daripada pancingan solusi berupa sedekah.
Kita percaya bahwa Allah adalah Sang Penolong, tetapi seringkali kita tidak yakin dengan mekanisme yang dibuatNya agar kita mendapatkan pertolonganNya ….
Pujian …
Kalau mau jujur, sepertinya timbangan keburukan kita bakal lebih banyak dibandingkan timbangan kebaikan kita. Mungkin karena itulah Allah menjadikan pahala kebaikan sepuluh kali lipat dibandingkan hukuman atas suatu kejahatan, karena Allah baik, dan Dia tahu betul timbangan hambaNya akan berat sebelah pada keburukan …
Tapi, setiap hari kita menuai pujian. Setiap hari kita masih dihormati oleh orang lain …
Kalau direnungkan sebenarnya segala pujian yang kita terima itu bukan hak kita. Kalau mau jujur, kita praktis tidak melakukan apa-apa. Hasil buah pikir yang kita banggakan, ternyata dihasilkan dari kerja otak yang cara kerjanya saja kita tidak mengerti …
Kalau direnungkan, ternyata orang lain masih mau memuji kita ternyata bukan karena kehebatan kita. Mereka masih menghormat pada kita semata-mata karena Allah menutupi aib-aib kita ….
Di kamar bidadariku …
Malam ini malam takbiran idul qurban. Saya baru pulang dari denpasar malam itu, penat memenuhi raga setelah perjalanan yang cukup melelahkan. Ingin segera merebahkan diri, namun saya putuskan mampir sejenak ke kamar anak2 ….
Jam menunjukkan 00.15 ketika saya memasuki kamar anak2. Kamar ini tidak luas, namun cukup untuk menampung sepasang bed ukuran anak2 yang didesain kompak, jika satu tidak digunakan bisa didorong ke dalam kolong bed satunya sehingga mencipta ruang yang lumayan lega.
Malam itu, kaka ayasha tidur di atas, sementara ade hafa di bed bawah. Keduanya lelap dalam mimpinya, tidak menyadari keberadan ayahnya yang telah hampir setengah jam duduk di tepian bed atas memandangi wajah mereka satu per satu bergantian.
Saya berdiam, bersholawat dalam hati, sambil menebarkan pandangan di setiap inci dinding kamar ini. Tergambar aktivitas sang medina dan sang mecca dalam berbagai coretan, gambar, dan berbagai tempelan dinding. Memang mereka saya biarkan kreativitasnya tercurah di kamar ini …
Tiba-tiba air mata menggenang melihat sebuah gambar tulisan kaka yang berisi “5 nasehat ayah” yang bersebelahan dengan gambar yang sejenis berisikan “5 pantangan”. Sang kaka yang beranjak besar mulai terbiasa mendokumentasikan apa saja peristiwa yang dialaminya dalam bentuk gambar atau tulisan …
Di sudut yang lain, di sisa ruang yang sempit, saya buatkan mereka sebuah meja belajar ala kadarnya, sebagai sebuah simbol perpustakan mini dan sebuah “reminder” pada mereka bahwa kita harus belajar tiap hari. Saya ingin mengatakan kepada mereka bahwa ilmu adalah kekayaan yang abadi, dengan ilmu itulah kita mengenal Sang Pencipta dan dengan ilmu pulalah kita bisa berkarya & bermanfaat …
….
Jam menunjukkan pukul 00.55 ketika ade hafa menggeliat merengek secara khas dengan mata tetap terpejam, sebuah rengekan haus minta minum. Dengan setengah meloncat tanpa bersuara saya meraih botol (dot) yang ada di meja di sisi kamar yang lain, menakar jumlah bubuk susu di dalamnya, lalu meraih sebuah termos kecil yang memang sudah disiapkan. Dengan sekali pencet, air keluar bergemiricik dari bibir termos dengan pelan. Dengan sengaja saya sodorkan jari untuk mengukur tingkat panasnya air itu, hmm .. sudah tidak terlalu panas, seketika saya putuskan menambah jumlahnya dari yang seharusnya 50 ml menjadi 100 ml. Sebuah kocokan kecil melarutkan bubuk susu itu, untuk akhirnya aqua 80 ml menyempurnakan susu buat ade hafa malam itu …
Dengan tetap terpejam, sang ade menghisap susu melalui botol kesayangannya. Saya ingin mengiringi tidur mereka dengan bacaan Quran, tetapi serangan kantuk setelah penerbangan yang melelahkan membuat saya tak sanggup melakukannya. Maka, sebelum beranjak, saya keluarkan Ipod dari kantong, menyalakannya .. dan sejurus kemudian terdengar senandung indah Surat Al Anam oleh Syeikh Suraim memenuhi ruangan, menemani bidadari2 itu di sisa malam …
Tradisi
Tradisi berasal dari kata “traditio” dari bahasa latin yang bermakna “diteruskan”. Dalam pemahaman yang sederhana, tadisi bermakna kebiasaan, tata cara, atau nilai yang dilakukan terus menerus secara konsisten dalam kurun waktu yang lama.
Enam tahun yang lalu, menjelang berpulangnya, almarhum papa mertua saya memberikan pesan tentang kelanggengan keluarga. Beliau mengatakan bahwa keberlangsungan sebuah keluarga salah satunya ditentukan oleh tradisi yang berhasil dibangunnya. Tradisi itulah yang akan membangun nilai yang disepakati bersama, juga membangun pilar yang menyatukan segala perbedaan, serta memberikan “ruh” pada rumah yang akan membuat anggota keluarga selalu kembali ke rumah.
Selama lebih dari enam tahun ini saya mencoba membangun tradisi keluarga saya. Melalui berbagai perenungan dan dialektika, saya mencoba membangunnya dalam 3 tingkat tradisi. Tingkat pertama adalah perilaku, yaitu tradisi yang berbentuk perbuatan, sebuah kesepakatan atas rutinitas. Tingkat kedua adalah nilai, yaitu melembaganya nilai-nilai tertentu, baik dalam setiap diri keluarga saya maupun dalam keluarga sebagai sebuah kelompok. Tingkat ketiga adalah tradisi hati, yang berimplikasi pada terbangunnya sebuah “reflek” dalam menyikapi sebuah kejadian, yang berakar pada pengenalan atas Allah Sang Penguasa Kejadian.
Itulah tradisi yang semoga senantiasa menyatukanvisi keluarga kami. Tradisi yang membentuk pola pikir dan pola sikap istri dan anak-anak saya. Sebuah tradisi yang menjadikan tahajud sebagai titik start mulainya hari, tradisi yang membentuk sistem pengasuhan ala Nordiawan, tradisi yang membentuk kami sebagai pekerja keras, serta tradisi yang membuat anak-anak berseru “terima kasih Ya Allah” setiap mendapat kesenangan atau berbisik “tolong kami Ya Allah” setiap menghadapi himpitan …
Comments (1)

